Tema Ahlussunah wal Jama’ah (selanjutnya disebut Aswaja) pernah dibincangkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya. Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud pernah mengatakan; “Umatku akan pecah menjadi 73 golongan, satu yang selamat sisanya hancur”. Beliau ditanya; “Siapa yang selamat itu”? Beliau menjawab; “Ahlussunah wal Jama’ah”. Beliau ditanya lagi; “Siapa Ahlussunah wal Jama’ah”? Dijawab oleh Rasulullah; “Golongan yang mengikuti sunnahku dan sunnah sahabatku”.

Hadits ini memberikan pemahaman, Ahlussunah wal Jama’ah adalah wajah Islam yang seharusnya, sementara faksi yang lain merupakan cara berislam yang muram. Aswaja adalah berislam secara menyeluruh. Dalam al Qur’an disebut “udkhuluu fi as silmi kaffah” (QS. al Baqarah: 208), bermakna berislam secara totalitas.

Persoalannya tidak semua umat Islam mampu menterjemahkan kata “kaffah” secara komprehensif dan proporsional. Terutama umat Islam yang masa hidupnya berjarak cukup jauh dengan masa Nabi, sahabat, tabi’in dan pengikut tabi’in, akan kesulitan meniru tradisi berislam Nabi secara sempurna. Karenanya, harus mengikuti rekam jejak para ulama sebagai penyambung sanad beragama kepada Rasulullah.

Oleh karena itu, agar tidak terjebak menjadi kelompok yang celaka, seperti disebutkan oleh Nabi dalam hadits di atas, penting memahami Aswaja supaya keberagamaan kita tetap satu visi dengan Islam yang dirisalahkan kepada Nabi. Karena, sekalipun semua orang bisa mengklaim sebagai bagian dari Aswaja, namun pada kenyataannya menyimpang sangat jauh dari ruh Aswaja itu sendiri.

Praktik menyimpang dari ajaran Aswaja jamak ditemukan hingga hari ini. Di Indonesia mereka mewujud menjadi kelompok-kelompok intoleran radikal berbasis agama yang kencang menebarkan wabah permusuhan dalam kehidupan sosial dan sosial media. Mereka melakukan berbagai tindakan batil dengan kemasan agama. Modusnya adalah menuduh berbagai amaliah umat Islam di luar kelompok mereka sebagai bid’ah, bahkan sampai pada tuduhan kafir.

Siapa yang Aswaja dan Bukan?

Muktamar Internasional Ulama Muslim atau Muktamar Ahlussunah wal Jama’ah, lebih dikenal dengan Konferensi Chechnya, pada 25-27 Agustus 2016, menolak dan mengeluarkan Wahabi bentukan Saudi Arabia dari Ahlussunah wal Jama’ah.

Dari sebelas rekomendasi hasil muktamar tersebut salah satunya menyebutkan, bahwa muslim Ahlussunah adalah madhab Asy’airah dan Maturudiyyah dan mengeluarkan sekte Wahabi dari kelompok Islam Sunni.

Muktamar tersebut dengan sendirinya semakin menegaskan kebenaran Aswaja Nahdliyyah yang dibangun di atas basis teologi (tauhid) madhab Asy’ariyah dan Maturudiyyah. Dengan demikian, ulama-ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) adalah ulama-ulama yang memiliki kapasitas keilmuan level internasional karena mampu merumuskan Aswaja secara baik dan benar.

Sementara Wahabi dikeluarkan dari Ahlussunah wal Jama’ah karena tinta hitam torehan sejarah mereka dalam sejarah umat Islam. Dalam sejarahnya, Wahabi menjadi sebab utama pertumpahan darah dan saling bunuh antar sesama kaum muslim dengan dalih berjihad melawan orang-orang kafir.

Selain itu, ideologi yang mereka usung tidak mencerminkan realitas Islam sebagai agama yang mendatangkan rahmat bagi semesta atau rahmatan lil ‘alamin. Hal ini tampak dari sikap eksklusif sekte Wahabi (Salafi Wahabi) dengan mengkafirkan kelompok muslim yang tidak sehaluan dengan mereka. Kelompok di luar mereka di cap kafir. Kelompok-kelompok Takfiri melakukan tindakan tercela yang tidak mencerminkan Ahlussunah.

Ini sekadar contoh untuk menjawab pertanyaan, siapa Ahlusunah dan yang bukan. Kelompok Ahlussunah, sebagaimana tradisi berislam Nabi, merepresentasikan cara beragama yang inklusif, menghargai perbedaan dan tidak mudah menuduh kelompok muslim lain dengan kafir. Ciri Ahlussunah wal Jama’ah yang lain memiliki sikap moderat yang terejawantah dalam prinsip beragama yang ta’adul (adil), tasamuh (toleran)dan tawazun (proporsional).

Sementara ciri kelompok di luar Ahlussunah memiliki paham keagamaan radikal Intoleran yang kerap kali menggunakan agama sebagai kedok pembenaran segala tindak tanduk yang sejatinya keluar dari jalur syariat Islam. Sering melakukan tindakan batil dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan bernegara dengan dalih menegakkan syariat Islam.

Mohammad Sada’i