Salah satu karya Muhammad bin Abdil Wahab, pendiri Wahabi, adalah Al Qawaidul Arba’, kitab tauhid yang memuat doktrin-doktrin teologis. Dalam tradisi kaum Wahabi kitab ini diklaim sebagai konsep tauhid terbaik yang berisi doktrin-doktrin teologi untuk pertahanan dan memelihara kemurnian yang sifatnya teosentris.

Apakah hanya sebuah propaganda sekaligus promosi untuk memikat simpati umat Islam? Tentu layak dipertanyakan. Khawatir semua itu hanya narasi yang ujung-ujungnya adalah menyalahkan kelompok lain dengan tuduhan musyrik dan semacamnya.

Sebagaimana dimaklumi, jargon Wahabi dengan ungkapan, beragama berarti menempuh jalan lurus menuju satu tujuan, yaitu Allah, serta kembali kepada al Qur’an dan hadits hanya label untuk menyudutkan kelompok lain pada posisi bersalah. Seperti ungkapan mereka “kembali kok pada ulama, kembali ya pada sunnah, ulama kan manusia biasa yang bisa salah, kembalilah kepada hal yang pasti benarnya”.

Oleh karena itu, umat Islam tidak boleh keliru memilih konsep ajaran tauhid karena seluruh ajaran Islam bertolak dari akidah, dan konsep utamanya adalah tauhid.

Maka, apakah benar kitab Al Qawa’idul Arba’ merupakan representasi ajaran tauhid murni dan mengantarkan seseorang pada jalan lurus menuju satu tujuan, yaitu Allah. Ini perlu diuji dan dikoreksi.

Kitab Al Qawa’idul Arba’; Penggiringan Opini Mengakui Kebenaran Tauhid Rububiyah

Kitab ini memuat empat kaidah. Rangkuman hasil analisis penulisnya tentang tauhid orang kafir dan muslim. Berdasarkan empat kaidah ini dapat dibedakan, siapa kafir dan siapa muslim. Kategorisasi pembelahan manusia pada dua kelompok kafir dan muslim.

Jika ditelusuri dan dikaji secara mendalam, kitab ini hakikatnya ingin mempresentasikan Tauhid Rububiyah, salah satu doktrin teologi yang menjadi tema sentral “Tauhidnya Wahabi”. Telah dimaklumi, Wahabi memiliki tiga konsep tauhid; Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma was Sifat.

Kalau dibaca dengan teliti, Muhammad bin Abdil Wahab dengan karyanya ini hendak menggiring opini pembaca untuk menyetujui konsep Tauhid Rububiyah. Mari kita buktikan.

Pada kaidah pertama, Muhammad bin Abdil Wahab menjustifikasi, “Orang kafir sebenarnya bertauhid Rububiyah”. Menurutnya, orang kafir mengakui Allah sebagai pencipta alam semesta, pemberi rizki, mengatur kehidupan serta mendatangkan manfaat dan mudharat.

Selanjutnya, pada kaidah keempat, Muhammad bin Abdul Wahab lebih memuji orang kafir dibanding orang Islam yang bertawassul dan bertabarruk. Menurutnya, orang yang bertawassul dan bertabarruk berarti telah menyekutukan Allah. Ia mengatakan: “Orang musyrik zaman dahulu hanya syirik ketika ia dalam keadaan lapang, sementara ketika dalam keadaan sempit, mereka benar-benar memurnikan Allah sebagai rabb, Tuhan semesta. Berbeda dengan orang musyrik zaman sekarang, mereka syirik ketika dalam keadaan lapang dan juga dalam keadaan sempit”.

Pernyataan Muhammad bin Abdil Wahab pada kaidah keempat hakikatnya menyindir orang-orang yang bertabarruk dan bertawassul. Karena orang-orang yang bertabarruk dan bertawassul tidak melihat kondisi lapang dan sempit.

Kemudian, apa yang disampaikan oleh Muhammad bin Abdil Wahab ini sama dengan yang disampaikan oleh tokoh Wahabi lainnya, misal Muhammad Ahmad Basyamil dalam kitabnya Kayfa Nafhamut Tauhid, ia berkata:

أَبُوْ جَهْلٍ وَأَبُوْ لَهَبٍ وَمَنْ عَلَى دِيْنِهِمْ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، كَانُوْا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَيُوَحِّدُوْنَهُ فِي الرُّبُوْبِيَّةِ خَالِقاً وَرَازِقاً، مُحْيِيًّا وَمُمِيْتًا، ضَارًّا وَنَافِعاً، لَا يُشْرِكُوْنَ بِهِ فِي ذَلِكَ شَيْئاً

Artinya: “Abu Jahal dan Abu Lahab serta orang-orang musyrik lainnya, mereka beriman kepada Allah serta mengesakan Allah dalam Tauhid Rububiyah, Allah sebagai pencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, yang mendatangkan mudharat dan yang memberikan manfaat, sama sekali mereka tidak menyekutukan Allah dengan hal tersebut”

Sampai disini sudah cukup jelas, apa yang disampaikan teolog Wahabi, bahwa orang kafir meyakini Allah satu-satu pemberi rizki, pengatur alam dan yang mendatangkan manfaat dan mudharat adalah kebohongan yang nyata, yang tidak sesuai dengan al Quran dan Hadits. Berikut ini adalah dalil-dalil sebagai bukti kesesatan mereka.

Pandangan Al Qur’an dan Hadits Tentang Kesesatan Konsep Tauhid Kitab Al Qawa’idul Arba’

Pada ayat 74 surat Yasin dijelaskan:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ

Artinya: “Mereka menjadikan sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapatkan pertolongan” (QS. Yasin: 74)

Surat Maryam ayat 81, juga dijelaskan:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا

Artinya: “Dan mereka menjadikan sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapatkan perlindungan darinya” (QS. Maryam: ayat 81)

Ibnu Katsir berkata:

يُخْبِرُ تَعَالَى عَنِ الْكُفَّارِ الْمُشْرِكِيْنَ بِرَبِّهِمْ أَنَّهُمْ اِتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهِ آلِهَةً، لِتَكُوْنُ تِلْكَ الْآلِهَةُ { عِزًّا } يَعْتَزُّوْنَ بِهَا وَيَسْتَنْصِرُوْنَهَا

Artinya: “Dengan ayat tersebut Allah memberi kabar tentang orang-orang musyrik terhadap Tuhannya, bahwa mereka menjadikan sesembahan selain Allah agar mereka bisa berlindung dan meminta pertolongan kepadanya” (Ibn Katsir, Tafsir Ibnu Katsir)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang kafir tidak meyakini bahwa Allah satu-satunya yang memberikan manfaat dan mudharat. Terbukti mereka juga menjadikan selain Allah sebagai sesembahan agar mereka mendapatkan perlindungan dan kebaikan lainnya.

Di dalam hadits juga diceritakan, ketika Rasulullah saw selesai shalat Subuh di Hudaibiyah setelah hujan di malam hari. Beliau bertanya: Apakah kalian tahu apa yang dikatakan oleh Tuhan kalian ?. Mereka menjawab: Hanya Allah dan Rasul_Nya yang mengetahui. Kemudian Rasulullah bersabda: “Allah berfirman, diantara hamba-hambaku ada yang beriman kepadaku dan ada yang kafir. Orang yang berkata “Kami diberikan hujan dengan anugerah Allah dan rahmat_Nya”, maka ia orang yang beriman kepadaku dan kafir kepada bintang. Dan orang yang berkata “Kami diberi hujan sebab bintang ini dan itu, maka ia kafir kepadaku dan beriman kepada bintang”. (HR. Bukhari)

Hadits ini menjadi dalil, bahwa orang kafir tidak hanya mempercayai Allah sebagai pemberi hujan, tetapi mereka juga meyakini bintang-bintang tertentu dapat memberikan hujan.

Apa yang tertuang dalam kaidah pertama dan keempat dari kitab al Qawaidul Arba juga bertentangan dengan sejarah masuk Islamnya sahabat Dhimrah bin Tsalabah.

Ketika Dhimam bin Tsalabah masuk Islam, ia mendatangi kaumnya lalu berkata: “Alangkah buruknya Lata dan Uzza”. Mereka berkata: “Jangan begitu Dhimam, takutlah kamu kepada penyakit barash (belang) dan judzam (lepra), dan takutlah kamu kepada penyakit gila” Dhimam berkata: “Celakahlah kalian, sesungguhnya Lata dan Uzza, demi Allah, tidak bisa memberi manfaat dan mudharat” (HR. Ahmad)

Sejarah ini mengatakan, bahwa kaumnya Dzimah bin Tsalabah meyakini Lata dan Uzza yang merupakan sesembahan mereka dapat memberikan penyakit. Ini menunjukkan mereka tidak benar-benar meyakini Allah sebagai pemberi penyakit dan kesembuhannya.

Jadi, sudah jelas, pada kaidah pertama dan keempat kitab Al Qawaidul Arba’ bukan membincangkan tema tauhid untuk mengenal Allah, tetapi penggiringan opini terhadap Tauhid Rububiyah yang faktanya bertentangan dengan al Quran dan Hadits.

Wallahu A’lam